Parenting

membangun karakter anak sejak dini

Membangun Karakter Anak Sejak Dini

Membangun karakter anak sejak dini merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berdaya saing di masa depan. Usia dini dikenal sebagai masa keemasan (golden age), di mana perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat, sehingga nilai-nilai akan lebih mudah menanamkan dengan kuat dalam kepribadian mereka. Membentuk Pondasi Moral dan Etika Anak-anak yang sejak kecil biasa dengan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi. Karakter inilah yang menjadi bekal mereka untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Menguatkan Identitas dan Kepribadian Pendidikan karakter membantu anak mengenali jati dirinya, membangun rasa percaya diri, serta mengendalikan emosi. Dengan karakter yang kuat, anak tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dari lingkungan sekitar. Menciptakan Generasi Tangguh dan Berdaya Saing Dunia yang terus berubah menuntut generasi yang adaptif, disiplin, pekerja keras, dan memiliki daya juang tinggi. Karakter positif sejak dini akan membuat anak mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai luhur bangsa. Meningkatkan Kepedulian Sosial Anak yang biasa peduli sejak kecil akan tumbuh dengan rasa empati, kasih sayang, dan semangat gotong royong. Karakter ini menjadikan mereka pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi lingkungan dan masyarakat luas. Mendukung Prestasi Akademik Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan karakter disiplin, tanggung jawab, dan pantang menyerah memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Dengan kata lain, pendidikan karakter bukan hanya mendidik “hati” tetapi juga menunjang kecerdasan otak. Bagaimana Cara Membangun Karakter Anak ? Membangun karakter anak lebih efektif jika bermula dari keluarga masing-masing. Agar anak-anak merasa nyaman dengan prosesnya, maka dapat dimulai dari hal-hal ringan di keseharian. Selanjutnya simak langkah-langkah seperti berikut ini ! Buat kesepakatan dengan  anak Untuk membangun karakter anak, ajaklah anak untuk berdiskusi, tentang kegiatan baik secara rutin setiap hari. Kegiatan ini tidak harus yang berat, tetapi yang ringan dan tidak memberatkan anak-anak. Pertimbangkan bersama bahwa amalan harian ini adalah kegiatan yang mudah, ringan, dan tidak butuh waktu lama. Sebab Allah Swt sangat menyukai amalan ringan secara istiqamah dari pada amalan besar tetapi jarang atau cuma sekali itu saja. Contoh kegiatannya; merapikan tempat tidur setiap bangun pagi, menyapu halaman. Berikutnya mematikan atau menyalakan lampu penerang depan rumah, membaca buku 15 menit, menutup semua jendela rumah setiap sore, dan sebagainya. Pilih satu saja kegiatan tetapi wajib dilakukan setiap hari. Berikan penjelasan tentang maknanya Agar anak-anak lebih termotivasi, maka berikan penjelasan bahwa kegiatan baik dan ringan tersebut, jika dilakukan terus menerus, maka akan menjadi amal sholih, dan sangat besar manfaatnya bagi kita. Membangun karakter anak dapat menggunakan ilustrasi dari hikmah kisah ashabul kahfi. Bahwa para ashabul kahfi pernah terjebak di dalam sebuah goa. Di saat mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa, untuk keluar dari goa tersebut hanya doa yang bisa mereka lakukan. Dan terkabulnya doa mereka berkat washilah dengan menggunakan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas karena Allah. Sehingga terbukalah batu penutup goa, sehingga mereka bisa keluar. Begitu pula dengan kita, apabila sudah dalam kondisi kesulitan, maka amal sholih yang kita lakukan secara istiqomah karena Allah Swt, insyaAllah akan dapat menjadi penyebab terkabulnya doa-doa kita. Lakukan secara konsisten minimal 21 hari sampai dua bulan Mengapa harus 21 hari ? Ayah bunda yang dirahmati Allah Swt, untuk menanamkan karakter perlu pembiasaan yang konsisten. Sehingga muncul perasaan tidak nyaman jika belum melakukan hal tersebut. Dan dari banyak penelitian ternyata kebiasaan apabila sudah melewati masa 21 hari sampai dua bulan maka akan berdampak pada rutinitas yang lain secara otomatis. Jangka waktu 21 hari ini membuat sebuah kebiasaan terbentuk. Hal ini berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Maxwell Maltz, seorang dokter ahli bedah yang menulis buku “Psycho-Cybernetics”. Dr. Maltz membuat analisa ketika ia mengamati pola-pola tertentu pada pasiennya. Misalnya, ketika ia melakukan operasi pada hidung pasiennya, ia menemukan bahwa pasiennya membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan bentuk hidung barunya. Kemudian Maltz juga mengobservasi pasien yang mengalami amputasi kaki atau lengan, ia mengamati bahwa pasien tersebut akan mengalami “phantom limb” dan membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan kondisi barunya itu. Dalam buku Psycho-Cybernetics, Dr. Maltz mengatakan: “… dan banyak fenomena lain yang diobservasi secara umum cenderung menunjukkan bahwa butuh minimal sekitar 21 hari untuk meninggalkan pola mental yang lama dan menguatkan pola mental yang baru.” Dari penelitian inilah, selanjutnya para pembicara dan motivator pengembangan diri ternama seperti; Tony Robbins, Zig Ziglar, dan Brian Tracy sering menyampaikan hasil penelitian tersebut. Selanjutnya penelitian ini disempurnakan oleh Phillypa Lally dan timnya pada tahun 2009, yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Society. Dalam penelitian Lally ini menemukan bahwa sebuah pembiasaan terbentuk paling cepat butuh waktu 21 hari secara konsisten sampai dengan 2 bulan. Setelah itu kebiasaan tersebut akan berjalan secara otomatis di dalam mental kita. Apalagi jika kebiasaan yang sudah berjalan tersebut mendapat pendampingan dan penguatan terus menerus. Hasilnya akan berdampak kepada aktifitas kebiasaan lain yang berorientasi pada kemandirian, tanggung jawab, ataupun sosial. Tuliskan kalimat motivasi di kamar anak Setelah anak memahami maksud kegiatan ini, maka akan lebih baik jika ada kalimat motivasi yang terpasang untuk selalu mengingat kegiatan rutin yang akan menjadi dzikir anak setiap hari. Misalnya, “merapikan tempat tidur adalah hijrahku karena Allah Swt”. Semoga bermanfaat !

Membangun Karakter Anak Sejak Dini Read More »

gaya pola asuh orang tua

Gaya Pola Asuh Orang Tua

Gaya Pola asuh orang tua dalam mendidik anak sangatlah beraneka ragam. Hal tersebut disebabkan oleh dua faktor yang mempengaruhi sikap orang tua, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun  faktor internal adalah model pola asuh orang tua yang didapat dari pola asuh sebelumnya. Dalam hal ini orang tua menerapkan pola asuh berdasarkan yang mereka alami dari para orang tuanya. Dan ini digunakan jika mereka merasa pola asuh yang mereka dapatkan dari orang tua termasuk kategori berhasil. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, lingkungan fisik, dan lingkungan kerja orang tua. Lingkungan sosial dan fisik tempat orang tua tinggal sangat berpengaruh terhadap pola pengasuhan terhadap anaknya. Sebagai contoh, tempat tinggal orang tua di lingkungan masyarakat yang mayoritas tingkat sopan santunnya rendah, maka akan berpengaruh terhadap sikap anak-anak mereka. Kemudian lingkungan kerja orang tua. Jika orang tua terlalu sibuk bekerja maka otomatis mereka akan cederung menitipkan atau menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang-orang terdekatnya. Termasuk di sini mereka yang bekerja sebagai TKI di luar negeri. Mereka akan menyerahkan tanggung jawab pengasuhan anaknya kepada orang terdekat seperti saudara atau neneknya. Maka pola asuh yang didapat oleh anak akan sesuai dengan orang yang mengasuh anak tersebut. Tipe-Tipe Gaya Pola Asuh Orang Tua Gaya pola asuh orang tua atau pun pengasuh terhadap anak memiliki tipe-tipe seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Psikolog Diana Braumrind (Santrock, 2002), terdapat tiga gaya pola asuh orang tua terhadap anak, yaitu: Authoritarian Parenting (pola asuh otoriter), Authoritative Parenting (pola asuh demokratis), dan Permisif Parenting. Selanjutnya Psikolog Eleanor dan John Martin menambahkan satu jenis lagi yaitu Uninvolved Parenting (pola asuh cuek). Berikut kita bahas beserta akibat yang timbul dari gaya pola asuh orang tua tersebut. 1. Authoritarin Parenting (Pola Asuh Otoriter) Gaya pola asuh orang tua ini menuntut anaknya menjadi patuh dan penurut. Cara yang digunakan orang tua adalah menerapkan disiplin yang keras dan hukuman untuk mengendalikan anak. Orang tua banyak membuat peraturan tanpa menjelaskan ataupun mengajak anak untuk mendiskusikan sanksi yang diberikan. Pola asuh orang tua otoriter ini berakibat anak cenderung suka berbohong untuk menghindari hukuman, tidak bahagia, kurang mandiri, takut bersikap, merasa rendah diri, menunjukkan banyak masalah dalam berperilaku, memiliki nilai akademis yang buruk, rentan terhadap masalah mental, dan cenderung memiliki masalah penggunaan narkoba. 2. Authoritative Parenting (Pola Asuh Demokratis) Gaya pola asuh orang tua ini cenderung menggunakan pendekatan rasional dan demokratis. Orang tua sangat responsif terhadap sikap anaknya. Mereka bersikap akrab dan bahkan bisa menjadi teman bagi anaknya. Orang tua tipe ini mau mendengarkan pendapat anak, membuat peraturan dengan menjelaskan alasan dan kaitannya dengan norma serta nilai yang diterapkan dalam keluarga. Bahkan untuk sanksi pun mereka membuat kesepatan bersama. Orang tua seperti ini sangat memahami informasi perkembangan anak-anaknya. Gaya pola asuh orang tua ini berakibat anak cenderung ramah, bersemangat, ceria, dapat mengendalikan diri, memiliki rasa ingin tahu, kooperatif, tampak bahagia, lebih mandiri, dan mencapai kesuksesan akademik yang tinggi. Selain itu, anak juga biasanya dapat berinteraksi dengan baik, memiliki keterampilan sosial yang bagus, memiliki kesehatan mental yang baik (lebih sedikit mengalami depresi, kecemasan, upaya bunuh diri, mengonsumsi alkohol, maupun penggunaan narkoba), dan tidak menunjukkan kekerasan. 3. Permisive Parenting Gaya pola asuh orang tua permisif dikenal gemar memanjakan dan memiliki sedikit tuntutan atau harapan untuk anak. Orang tua jenis ini lebih responsif pada anak dibandingkan dua pola asuh sebelumnya. Pola asuh ini lebih modern, toleran dan menghindari konfrontasi. Orang tua jenis ini akan sedikit memiliki informasi tentang perkembangan anaknya. Sebab mereka cenderung mentolerir apapun kesalahan atau pun kelalaian anak. Mereka membuatkan aturan untuk anaknya, tetapi mereka juga tidak konsisten. Jika anak melanggar maka tetap dibiarkan. Sehingga anak akan merasa di zona nyaman berbuat apapun sesuka hatinya. Pola asuh orang tua ini akibatnya kerap mencetak pribadi yang tidak mandiri. Mereka cenderung mengalami masalah yang berkaitan dengan kecemasan setiap mengambil keputusan. anak akan menemui kesulitan mengontrol dorongan hati, tidak patuh jika diminta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya sendiri. mereka juga cenderung memiliki kinerja buruk dengan tugas-tugas sekolahnya. 4. Uninvolved Parenting (Pola Asuh Cuek) Gaya pola asuh orang tua ini sama sekali tidak terlibat dengan apa pun yang terkait dengan anak. Orang tua tidak menuntut, tidak responsif, dan minim komunikasi. Meskipun kebutuhan dasar anak terpenuhi, namun umumnya mereka terlepas jauh dari kehidupan anak. Mereka hanya memastikan bahwa anak mendapatkan asupan makan dan minum yang cukup, pulang ke rumah dengan aman, dan hal-hal mendasar lainnya. Sementara hal-hal yang bersifat dukungan emosional mereka nihil. Mereka adalah para orang tua yang akhirnya kurang mendapatkan informasi perkembangan anak-anaknya. Gaya pola asuh orang tua seperti ini, membuat anak cenderung tidak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga mencetak pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah. Orang tua seperti ini baru sadar jika di kemudian hari tiba-tiba muncul masalah yang membebani pikiran mereka. Sebab mereka sebelumnya tidak pernah tahu informasi perkembangan anaknya. Pola asuh orang tua di atas, akan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Sehingga kita dapat menentukan gaya yang tepat untuk digunakan sebagai model pola asuh terhadap anak-anak kita. demikian, semoga bermanfaat.  

Gaya Pola Asuh Orang Tua Read More »