ash-shoffa

logo dailyshoffa
biografi dan dakwah sunan drajat

Biografi dan Dakwah Sunan Drajat: Wali Penebar Kesejahteraan dan Kepedulian Sosial

Biografi Sunan Drajat Sunan Drajat merupakan salah satu tokoh penting dari Walisongo, sembilan wali yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Qosim, dikenal juga dengan sebutan Masayikh Munat atau Raden Syarifuddin. Beliau lahir pada tahun 1470 Masehi dan wafat pada 1522 Masehi. Ayahnya adalah Sunan Ampel, seorang ulama besar penyebar Islam di Surabaya, sedangkan ibunya bernama Nyai Ageng Manila, putri dari Bupati Tuban, Arya Teja. Sunan Drajat juga merupakan saudara kandung Sunan Bonang. Beliau menikah dengan Dewi Sufiyah, putri dari Sunan Gunung Jati, dan menetap di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, tempat beliau mendirikan pesantren terkenal bernama Padepokan Santri Dalem Dhuwur. Sunan Drajat wafat dan dimakamkan di daerah tersebut, yang kini menjadi salah satu destinasi ziarah religi di Jawa Timur. Gelar dan Karya Sunan Drajat Karena keberhasilannya dalam menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Raden Patah memberikan gelar kepada beliau sebagai Sunan Mayang Madu. Julukan ini menggambarkan kemampuan Sunan Drajat dalam “memakmurkan kehidupan masyarakat” melalui kesejahteraan dan kebersamaan sosial. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seniman religius. Salah satu karya tembang terkenalnya adalah Tembang Pangkur, yang berisi ajaran moral dan nilai-nilai kehidupan Islami dengan bahasa yang indah dan mudah dipahami masyarakat.Sunan Drajat juga dikenal sebagai pencipta alat musik yang diberi nama “Singo Mengkok”, yang menjadi sarana dakwahnya melalui media seni. Metode Dakwah Sunan Drajat Pada awal keberangkatannya berdakwah, Sunan Drajat diutus Sunan Ampel supaya berdakwah di wilayah Gresik. Namun dalam perjalanan ke Gresik dengan mengendarai perahu, tiba-tiba badai menghantam mengakibatkan perahunya menghantam karang dan pecah. Sunan Drajat berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki serpihan papan kayu perahu. Atas izin Allah Swt, beberapa ikan cucut dan talang mendatangi Sunan Drajat dan membantunya mendorong papan kayu yang dinaikinya meluncur ke daratan. Adapun wilayah yang daratan yang dituju ikan-ikan tersebut atas kehendak Allah Swt, Sunan Drajat terdampar di daratan Njelak, Lamongan. Di sinilah akhirnya Sunan Drajat mengawali perjalanan dakwahnya. Sunan Drajat dikenal menggunakan pendekatan sosial dan ekonomi dalam berdakwah. Beliau tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan rakyat. Adapun metode dakwah yang beliau gunakan antara lain: Melalui pengajian di masjid atau langgar. Pendidikan pesantren sebagai pusat pembelajaran Islam. Memberikan petuah dan nasihat kepada masyarakat. Menggunakan kesenian tradisional seperti tembang Pangkur. Melestarikan ritual adat yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pendekatan yang santun dan menyentuh kehidupan sehari-hari ini menjadikan dakwah beliau mudah diterima masyarakat luas. Ajaran dan Falsafah Hidup Sunan Drajat Sunan Drajat mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang dikenal dengan istilah Catur Piwulang, yaitu empat pedoman hidup untuk menumbuhkan kasih sayang dan solidaritas sosial: Menehono teken marang wong wuto → memberi pengetahuan kepada yang tidak tahu. Menehono mangan marang wong kang luwe → memberi makan kepada yang lapar. Menehono busono marang wong kang kawudan → memberi pakaian kepada yang membutuhkan. Menehono payung marang wong kang kudanan → memberi perlindungan dan bantuan kepada yang kesusahan. Selain itu, beliau juga dikenal dengan falsafah Pepali Pitu, yaitu tujuh ajaran kebajikan untuk membentuk karakter muslim yang berakhlak mulia. Kaidah utama yang diajarkan Sunan Drajat adalah: “Bapang den simpangi, ana catur mungkur”Artinya, hindarilah permusuhan dan jangan saling menyakiti satu sama lain. Keteladanan Sunan Drajat Dari perjalanan hidup dan perjuangannya, Sunan Drajat meninggalkan banyak teladan, antara lain: Memiliki jiwa sosial yang tinggi. Peduli terhadap fakir miskin dan kaum lemah. Menumbuhkan semangat bekerja keras dan mandiri. Berdakwah dengan santun, bijaksana, dan tanpa paksaan. Peninggalan Sunan Drajat Setelah Sunan Drajat wafat beliau memiliki peninggalan yang sampai saat ini bisa ditemukan ketika berziarah Drajat, Lamonga, Jawa Timur. Beberapa peninggalannya yaitu : Masjid dan makam Sunan Drajat Batik Drajat Gamelan Singo Mengkok Daun Lontar yang bertuliskan QS. Al-Kahfi Kesimpulan Sunan Drajat bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang tokoh sosial yang menebarkan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan. Melalui dakwah yang penuh kasih dan tindakan nyata, beliau menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga menuntun manusia untuk saling menolong, menghormati, dan hidup berdampingan dengan damai. Warisan ajaran Sunan Drajat hingga kini tetap relevan, terutama dalam membangun masyarakat yang peduli, beriman, dan berakhlak mulia di era modern. Download Ringkasan

Biografi dan Dakwah Sunan Drajat: Wali Penebar Kesejahteraan dan Kepedulian Sosial Read More »

Di era perubahan yang cepat, Sekolah Dasar (SD) memegang peran fundamental dalam menanamkan fondasi belajar. Sayangnya, banyak praktik masih terjebak pada Pembelajaran Permukaan (Surface Learning),

Mengubah Paradigma Strategi Pembelajaran Mendalam SD/MI untuk Pembelajaran Bermakna

Pendahuluan: Mengapa Deep Learning Penting di Sekolah Dasar? Di era perubahan yang cepat, Sekolah Dasar (SD) memegang peran fundamental dalam menanamkan fondasi belajar. Sayangnya, banyak praktik masih terjebak pada Pembelajaran Permukaan (Surface Learning), di mana siswa hanya menghafal fakta untuk ujian tanpa memahami esensinya. Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM), atau yang dikenal sebagai Deep Learning dalam konteks pendidikan, hadir sebagai solusi. PM adalah filosofi pedagogis yang bertujuan untuk: Memastikan siswa memahami konsep secara holistik (tidak sekadar hafal). Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata (relevansi). Lalu, bagaimana cara guru SD mengimplementasikan Strategi Pembelajaran Mendalam SD yang unik, aktif, dan tentunya menyenangkan? Berikut 5 langkah transformatif yang bisa diterapkan di kelas Anda.  5 Strategi Kunci Implementasi Pembelajaran Mendalam di SD Pembelajaran Mendalam di tingkat SD wajib sejalan dengan karakteristik anak, yaitu aktif, ingin tahu, dan suka bermain. Fokus pada Proyek Mini Otentik (Mini Project-Based Learning) Alih-alih tugas LKS yang kaku, gunakan proyek berskala kecil namun otentik. Ini adalah strategi utama Pembelajaran Bermakna. Matematika (Konsep Pecahan): Alih-alih mengerjakan soal di buku, minta siswa berkelompok untuk “Membuat Rencana Anggaran Jajan Sehat Mingguan”. Siswa harus membagi total uang saku menjadi pecahan untuk membeli buah, susu, dan sayuran. Mereka belajar pecahan, persentase, dan pengelolaan keuangan secara kontekstual. Sains (Siklus Air): Siswa diminta membuat “Akuarium Mini Siklus Air” dari botol bekas, bukan hanya menggambar di buku. Mereka mengamati proses kondensasi dan presipitasi secara langsung. Terapkan “Mindful Check-in” untuk Kesadaran Diri Pilar Belajar Berkesadaran (Mindful Learning) mengajarkan siswa untuk menjadi sadar akan emosi dan proses belajarnya. Ini penting untuk menumbuhkan tanggung jawab. Aktivitas: Sebelum dan sesudah pelajaran, minta siswa melakukan check-in singkat. “Traffic Light Feeling”: Siswa mengangkat kartu hijau (Siap Belajar), kuning (Agak Bingung), atau merah (Perlu Bantuan). Guru dapat segera mengidentifikasi siswa yang membutuhkan dukungan. “Refleksi 3-2-1”: Di akhir sesi, siswa menulis 3 hal yang dipahami, 2 hal yang relevan dengan kehidupan mereka, dan 1 pertanyaan yang masih mereka miliki. Transformasi Pertanyaan menjadi “Tantangan Mengapa & Bagaimana” Untuk menggeser dari hafalan ke pemahaman, guru harus mengubah cara bertanya. Pertanyaan harus memicu Penalaran Kritis. Pertanyaan Permukaan Pertanyaan Mendalam “Apa ibu kota Indonesia?” “Mengapa lokasi ibu kota baru dipilih di sana? Apa dampaknya bagi lingkungan dan ekonomi?” “Sebutkan jenis-jenis ekosistem!” “Bagaimana kita bisa menjadi pahlawan bagi ekosistem sungai di dekat sekolah? Apa peran kita?”   Dengan pertanyaan ini, siswa SD diajak untuk Mengaplikasi dan Merefleksi pengetahuan mereka, bukan sekadar menjawab. Aktivitas “Role Play” untuk Penguasaan Nilai (Joyful Learning) Pembelajaran Mendalam di SD juga mencakup pengembangan Karakter dan Kewargaan. Metode bermain peran (Role Play) sangat efektif untuk anak-anak. Contoh: Setelah belajar tentang keberagaman budaya atau hak anak, siswa diminta memainkan peran sebagai tokoh (misalnya, ketua RT, anak yang di-bully, atau penemu). Melalui peran ini, mereka merasakan langsung dilema dan nilai-nilai sosial, menciptakan pengalaman menggembirakan sekaligus bermakna. Kolaborasi Lintas Kelas: Meniru Dunia Nyata Dunia nyata penuh kolaborasi lintas disiplin. Terapkan ini di sekolah melalui proyek kolaboratif antar kelas atau antar mata pelajaran. Contoh Proyek Interdisipliner (Kelas 5): Isu: Sampah plastik di lingkungan sekolah. Proyek: “Kampanye 3R Cilik”. IPA: Meneliti jenis-jenis plastik dan dampaknya. Bahasa Indonesia: Menulis teks kampanye dan slogan yang persuasif. Seni: Membuat poster dan alat peraga daur ulang. Matematika: Menghitung volume sampah yang berhasil dikurangi. Kesimpulan: Pembelajar Sejati Dimulai dari SD Implementasi Strategi Pembelajaran Mendalam SD adalah kunci untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berkarakter kuat. Dengan mengubah metode mengajar menjadi lebih berpusat pada siswa, otentik, dan reflektif, guru SD telah berkontribusi besar dalam menanamkan benih pembelajar seumur hidup.  

Mengubah Paradigma Strategi Pembelajaran Mendalam SD/MI untuk Pembelajaran Bermakna Read More »

peringatan hari sumpah pemuda

Peringatan Hari Sumpah Pemuda: Semangat Persatuan di Era Digital

Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah di nusantara berkumpul dalam Kongres Pemuda II yang diadakan di Batavia (sekarang Jakarta). Kongres ini menjadi momentum bersejarah karena melahirkan tekad bulat untuk bersatu sebagai bangsa Indonesia, tanpa membedakan suku, agama, atau daerah asal. Kongres Pemuda II diselenggarakan oleh organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Batak, dan Jong Ambon. Meskipun berasal dari latar belakang yang beragam, mereka memiliki satu tujuan: menyatukan semangat kebangsaan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda Beberapa tokoh penting yang berperan dalam lahirnya Sumpah Pemuda antara lain: Soegondo Djojopoespito – Ketua Kongres Pemuda II. Muhammad Yamin – Perumus naskah Sumpah Pemuda dan salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional. WR. Supratman – Pencipta lagu Indonesia Raya yang pertama kali diperdengarkan dalam kongres tersebut. Amir Sjarifuddin, Djoko Marsaid, R. M. Joko Marsaid, dan beberapa tokoh pemuda lainnya juga turut berperan dalam menyukseskan kongres. Para tokoh ini adalah generasi muda yang berani menembus batas perbedaan demi membangun satu identitas nasional: Indonesia. Teks Sumpah Pemuda Berikut adalah isi teks asli Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928: Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tiga ikrar ini menjadi dasar lahirnya semangat persatuan nasional dan menjadi pilar utama dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Makna Sumpah Pemuda di Era Globalisasi dan Dunia Digital Di era globalisasi yang serba digital seperti saat ini, makna Sumpah Pemuda tetap relevan dan sangat penting. Perkembangan teknologi, media sosial, dan internet telah mengubah cara generasi muda berinteraksi, bekerja, dan belajar. Namun semangat persatuan dan cinta tanah air yang terkandung dalam Sumpah Pemuda harus tetap dijaga. Beberapa makna penting Sumpah Pemuda di era digital antara lain: Menjaga Identitas Nasional di Dunia Global Pemuda harus bangga menggunakan bahasa Indonesia dan menjaga nilai budaya bangsa di tengah arus globalisasi. Bersatu Melalui Teknologi Pemuda Indonesia dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan solidaritas lintas daerah dan budaya. Menjadi Agen Perubahan Positif Dengan semangat Sumpah Pemuda, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menyebarkan konten positif, melawan hoaks, dan membangun peradaban digital yang beretika. Cinta Tanah Air dalam Dunia Digital Nasionalisme kini tak hanya diwujudkan dalam perjuangan fisik, tetapi juga dalam dunia digital — dengan menciptakan karya yang membanggakan Indonesia. Kesimpulan Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persatuan, kebangsaan, dan cinta tanah air di hati generasi muda. Di tengah kemajuan teknologi dan arus globalisasi, nilai-nilai Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa meski berbeda suku, agama, dan budaya, kita tetap satu bangsa — Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda: Semangat Persatuan di Era Digital Read More »

membangun karakter anak sejak dini

Membangun Karakter Anak Sejak Dini

Membangun karakter anak sejak dini merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia, tangguh, dan berdaya saing di masa depan. Usia dini dikenal sebagai masa keemasan (golden age), di mana perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat, sehingga nilai-nilai akan lebih mudah menanamkan dengan kuat dalam kepribadian mereka. Membentuk Pondasi Moral dan Etika Anak-anak yang sejak kecil biasa dengan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi. Karakter inilah yang menjadi bekal mereka untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Menguatkan Identitas dan Kepribadian Pendidikan karakter membantu anak mengenali jati dirinya, membangun rasa percaya diri, serta mengendalikan emosi. Dengan karakter yang kuat, anak tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dari lingkungan sekitar. Menciptakan Generasi Tangguh dan Berdaya Saing Dunia yang terus berubah menuntut generasi yang adaptif, disiplin, pekerja keras, dan memiliki daya juang tinggi. Karakter positif sejak dini akan membuat anak mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai luhur bangsa. Meningkatkan Kepedulian Sosial Anak yang biasa peduli sejak kecil akan tumbuh dengan rasa empati, kasih sayang, dan semangat gotong royong. Karakter ini menjadikan mereka pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi lingkungan dan masyarakat luas. Mendukung Prestasi Akademik Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan karakter disiplin, tanggung jawab, dan pantang menyerah memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Dengan kata lain, pendidikan karakter bukan hanya mendidik “hati” tetapi juga menunjang kecerdasan otak. Bagaimana Cara Membangun Karakter Anak ? Membangun karakter anak lebih efektif jika bermula dari keluarga masing-masing. Agar anak-anak merasa nyaman dengan prosesnya, maka dapat dimulai dari hal-hal ringan di keseharian. Selanjutnya simak langkah-langkah seperti berikut ini ! Buat kesepakatan dengan  anak Untuk membangun karakter anak, ajaklah anak untuk berdiskusi, tentang kegiatan baik secara rutin setiap hari. Kegiatan ini tidak harus yang berat, tetapi yang ringan dan tidak memberatkan anak-anak. Pertimbangkan bersama bahwa amalan harian ini adalah kegiatan yang mudah, ringan, dan tidak butuh waktu lama. Sebab Allah Swt sangat menyukai amalan ringan secara istiqamah dari pada amalan besar tetapi jarang atau cuma sekali itu saja. Contoh kegiatannya; merapikan tempat tidur setiap bangun pagi, menyapu halaman. Berikutnya mematikan atau menyalakan lampu penerang depan rumah, membaca buku 15 menit, menutup semua jendela rumah setiap sore, dan sebagainya. Pilih satu saja kegiatan tetapi wajib dilakukan setiap hari. Berikan penjelasan tentang maknanya Agar anak-anak lebih termotivasi, maka berikan penjelasan bahwa kegiatan baik dan ringan tersebut, jika dilakukan terus menerus, maka akan menjadi amal sholih, dan sangat besar manfaatnya bagi kita. Membangun karakter anak dapat menggunakan ilustrasi dari hikmah kisah ashabul kahfi. Bahwa para ashabul kahfi pernah terjebak di dalam sebuah goa. Di saat mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa, untuk keluar dari goa tersebut hanya doa yang bisa mereka lakukan. Dan terkabulnya doa mereka berkat washilah dengan menggunakan amal kebaikan yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas karena Allah. Sehingga terbukalah batu penutup goa, sehingga mereka bisa keluar. Begitu pula dengan kita, apabila sudah dalam kondisi kesulitan, maka amal sholih yang kita lakukan secara istiqomah karena Allah Swt, insyaAllah akan dapat menjadi penyebab terkabulnya doa-doa kita. Lakukan secara konsisten minimal 21 hari sampai dua bulan Mengapa harus 21 hari ? Ayah bunda yang dirahmati Allah Swt, untuk menanamkan karakter perlu pembiasaan yang konsisten. Sehingga muncul perasaan tidak nyaman jika belum melakukan hal tersebut. Dan dari banyak penelitian ternyata kebiasaan apabila sudah melewati masa 21 hari sampai dua bulan maka akan berdampak pada rutinitas yang lain secara otomatis. Jangka waktu 21 hari ini membuat sebuah kebiasaan terbentuk. Hal ini berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Maxwell Maltz, seorang dokter ahli bedah yang menulis buku “Psycho-Cybernetics”. Dr. Maltz membuat analisa ketika ia mengamati pola-pola tertentu pada pasiennya. Misalnya, ketika ia melakukan operasi pada hidung pasiennya, ia menemukan bahwa pasiennya membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan bentuk hidung barunya. Kemudian Maltz juga mengobservasi pasien yang mengalami amputasi kaki atau lengan, ia mengamati bahwa pasien tersebut akan mengalami “phantom limb” dan membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan kondisi barunya itu. Dalam buku Psycho-Cybernetics, Dr. Maltz mengatakan: “… dan banyak fenomena lain yang diobservasi secara umum cenderung menunjukkan bahwa butuh minimal sekitar 21 hari untuk meninggalkan pola mental yang lama dan menguatkan pola mental yang baru.” Dari penelitian inilah, selanjutnya para pembicara dan motivator pengembangan diri ternama seperti; Tony Robbins, Zig Ziglar, dan Brian Tracy sering menyampaikan hasil penelitian tersebut. Selanjutnya penelitian ini disempurnakan oleh Phillypa Lally dan timnya pada tahun 2009, yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Society. Dalam penelitian Lally ini menemukan bahwa sebuah pembiasaan terbentuk paling cepat butuh waktu 21 hari secara konsisten sampai dengan 2 bulan. Setelah itu kebiasaan tersebut akan berjalan secara otomatis di dalam mental kita. Apalagi jika kebiasaan yang sudah berjalan tersebut mendapat pendampingan dan penguatan terus menerus. Hasilnya akan berdampak kepada aktifitas kebiasaan lain yang berorientasi pada kemandirian, tanggung jawab, ataupun sosial. Tuliskan kalimat motivasi di kamar anak Setelah anak memahami maksud kegiatan ini, maka akan lebih baik jika ada kalimat motivasi yang terpasang untuk selalu mengingat kegiatan rutin yang akan menjadi dzikir anak setiap hari. Misalnya, “merapikan tempat tidur adalah hijrahku karena Allah Swt”. Semoga bermanfaat !

Membangun Karakter Anak Sejak Dini Read More »

mengenal kurikulum berbasis cinta

Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta

Kurikulum Berbasis Cinta atau biasa disingkat KBC adalah pendekatan pendidikan yang menekankan nilai‐nilai cinta kasih, empati, toleransi, keadilan, penghargaan terhadap sesama dan terhadap lingkungan, serta pengembangan karakter secara menyeluruh — bukan hanya aspek akademik. KBC merupakan sebuah nilai dan pendekatan yang masuk ke dalam berbagai mata pelajaran yang sudah ada. Nilai Dan Prinsip Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) memiliki nilai inti atau prinsip yang meliputi ; Empati dan penghargaan terhadap setiap individu. Relasi guru‐murid yang hangat dan aman secara emosional. Keseimbangan antara aspek kognitif dan afektif (pikir & rasa). Pembelajaran bermakna / kontekstual dan memperhatikan pengalaman siswa. Nilai cinta kepada Tuhan, sesama, ilmu, lingkungan, dan bangsa (“Panca Cinta”). Pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi penting karena beberapa alasan, di antaranya ; Untuk merespons krisis kemanusiaan seperti intoleransi, kekerasan, serta perundungan di sekolah. Agar pendidikan tidak hanya mengukur kecerdasan akademik, melainkan juga karakter dan kesejahteraan emosional siswa. Untuk membangun kesadaran ekologis dan kepedulian terhadap lingkungan. Menumbuhkan generasi yang toleran, manusiawi, dan mampu mengelola keberagaman. Kementerian Agama Sebagai Pengembang Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan konsep pendekatan pembelajaran dari Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai penyelenggara utama. Konsep ini berkembang melalui uji publik dan kolaborasi dengan berbagai pihak pakar pendidikan dan tokoh masyarakat. Adapun pemberlakuannya sejak dari perencanaan pada tahun 2024 melalui diskusi dan uji publik dan resmi berlaku pada pertengahan tahun 2025. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Sekolah/Madrasah Implementasi KBC meliputi beberapa aspek, yaitu ; Pelatihan guru untuk memahami filosofi dan metode pengajaran berbasis cinta. Panduan integrasi nilai “cinta” ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Pemantauan dan evaluasi untuk melihat bagaimana nilai-nilai cinta tersebut tumbuh dalam iklim sekolah. Tantangan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Implementasi KBC dapat diidentifikasi sebagai berikut ; Butuh perubahan budaya di sekolah; banyak guru masih terbiasa dengan pendekatan yang sangat akademis dan fokus pada hasil ujian. Perlunya kesiapan dan pemahaman guru, terutama dalam aspek afektif dan emosional. Bagaimana mengukur dan menilai aspek‐karakter dan nilai yang bersifat non‐kognitif. Konsistensi antara sekolah, rumah, dan masyarakat agar nilai cinta tidak berhenti di kelas tetapi meluas ke lingkungan. Risiko atau Kritik Terhadap Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Beberapa kritik atau kekhawatiran yang muncul terhadap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) antara lain: Bahwa fokus pada cinta harus tetap seimbang dengan prinsip keagamaan atau nilai-nilai normatif agar tidak dilemahkan. Potensi penyederhanaan ajaran agama atau nilai jika “cinta” disalahpahami atau tidak dirumuskan secara jelas. Kesulitan dalam menjaga standar akademik jika semua perhatian terlalu tertuju pada aspek emosional dan karakter. Perbedaan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Dengan Pendidikan Karakter Sebelumnya Beberapa point penting yang menjadi perbedaan antara Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan pendidikan karakter sebelumnya yakni ; KBC lebih menekankan integrasi nilai cinta sebagai roh dari keseluruhan proses pendidikan, bukan sebagai tambahan modul karakter. KBC berusaha menggabungkan aspek spiritual, emosional, sosial, dan intelektual secara lebih seimbang. KBC juga memberi ruang bagi pengalaman pembelajaran yang bersifat reflektif dan relasional, bukan sekadar transfer ilmu.

Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta Read More »

Penanaman Karakter Islami Berbasis Kurikulum Cinta

Penanaman Karakter Islami Berbasis Kurikulum Cinta di Madrasah Ibtidaiyah

Penanaman Karakter Islami Berbasis Kurikulum Cinta di Madrasah Ibtidaiyah menjadi salah satu tujuan utama. Tidak hanya cerdas secara akademik, siswa madrasah juga diharapkan memiliki akhlak mulia sesuai nilai-nilai Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Agama Republik Indonesia memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi dasar penanaman karakter di madrasah, khususnya jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI). Apa Itu Kurikulum Berbasis Cinta? Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang berlandaskan pada Panca Cinta, yaitu lima pilar utama yang menjadi arah pembentukan karakter siswa. Kelima cinta tersebut meliputi: Melalui panca cinta ini, madrasah diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keislaman yang menyentuh hati dan membentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Praktik Nyata Penanaman Karakter Berbasis Panca Cinta di Madrasah Ibtidaiyah Penanaman cinta kepada Allah dan Rasulullah dilakukan melalui pembiasaan ibadah harian, seperti shalat dhuha, membaca Al-Qur’an sebelum pelajaran dimulai, dan mengucap doa sebelum maupun sesudah kegiatan belajar.Selain itu, guru juga menanamkan teladan akhlak Rasulullah melalui kisah-kisah sirah nabawiyah yang disampaikan secara menarik. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengenal, tetapi juga meneladani sifat jujur, amanah, dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW. 2. Cinta Diri Sendiri Cinta diri sendiri bukan berarti egois, melainkan menjaga kebersihan, kesehatan, dan tanggung jawab pribadi. Madrasah membiasakan siswa untuk merapikan perlengkapan belajar, mencuci tangan sebelum makan, dan menjaga kerapian diri.Kegiatan seperti “Hari Disiplin Diri” atau “Pekan Kebersihan Pribadi” sering dijadikan ajang pembiasaan positif yang membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab. Cinta kepada sesama diwujudkan melalui program berbagi dan tolong-menolong, seperti sedekah jum’at, kunjungan sosial, atau donasi untuk yatim.Siswa juga dilatih berinteraksi dengan santun, menghormati guru, dan menghargai teman. Nilai ukhuwah Islamiyah ini menjadi dasar terciptanya lingkungan madrasah yang ramah dan penuh kasih. Madrasah berbasis cinta menanamkan kesadaran menjaga alam melalui kegiatan madrasah hijau, seperti menanam pohon, memilah sampah, dan menghemat air.Kegiatan “Jumat Bersih” menjadi agenda rutin yang menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Siswa diajarkan bahwa mencintai alam adalah bagian dari mencintai ciptaan Allah SWT. Penanaman cinta tanah air dilakukan dengan mengintegrasikan nilai nasionalisme dalam kegiatan keislaman. Upacara bendera, peringatan hari besar nasional, dan mengenal tokoh-tokoh Islam Indonesia menjadi bagian dari pendidikan karakter.Melalui pembelajaran ini, siswa tumbuh menjadi generasi yang religius sekaligus memiliki semangat kebangsaan. Peran Guru dalam Kurikulum Berbasis Cinta Guru di madrasah ibtidaiyah tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga teladan dan pembimbing karakter. Dengan pendekatan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang lembut, guru membantu siswa memahami makna cinta yang sesungguhnya.Setiap interaksi menjadi media pendidikan karakter — mulai dari memberi salam, menyapa dengan senyum, hingga memberi apresiasi atas perilaku baik siswa. Kesimpulan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah ibtidaiyah merupakan langkah nyata dalam membangun generasi berakhlak mulia, berjiwa nasionalis, dan peduli terhadap sesama.Melalui panca cinta, siswa belajar mencintai Allah, diri, sesama, lingkungan, dan tanah air sebagai satu kesatuan nilai Islami yang utuh. Dengan penerapan yang konsisten, madrasah menjadi tempat tumbuhnya generasi cinta — generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak Qur’ani.  

Penanaman Karakter Islami Berbasis Kurikulum Cinta di Madrasah Ibtidaiyah Read More »

Pentingnya Literasi Menulis bagi Guru

Pentingnya Literasi Menulis bagi Guru

Mengapa Literasi Menulis Penting? Sebuah penelitian kecil di Jawa Barat dengan melibatkan 107 guru Bahasa Inggris menunjukkan bahwa menulis belum menjadi kebiasaan populer di kalangan guru. Banyak alasan yang muncul, mulai dari tidak ada waktu, sulit mengutarakan ide, kurang percaya diri, hingga merasa tidak memiliki bakat menulis. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi para guru untuk tetap melaksanakan program literasi di sekolah, terutama kegiatan membaca 15 menit di awal kelas sesuai amanat Permendikbud No. 23 Tahun 2015. Sayangnya, semangat menulis tidak sekuat semangat membaca. Padahal, menurut Renald Kasali, kesadaran bisa hadir dari diri sendiri atau dari dorongan eksternal. Artinya, guru perlu menyadari bahwa literasi bukan hanya membaca, tetapi juga menulis. Setelah membaca, biasanya akan muncul inspirasi. Inspirasi inilah yang seharusnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Literasi Guru: Membaca dan Menulis Gencarnya program literasi menuntut guru untuk berperan sebagai model sekaligus pelaksana. Literasi sendiri bermakna kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas melalui berbagai aktivitas, seperti membaca, menyimak, menulis, hingga berbicara. Agar literasi tidak berhenti pada membaca, guru perlu memulai kebiasaan menulis. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Tips Memulai Menulis bagi Guru 1. Jangan Takut Menulis Membaca tidak berarti literasi sudah selesai. Setelah membaca, tulislah apa yang dipahami. Tidak perlu takut hasil tulisan tidak bagus. Menulis adalah keterampilan yang akan semakin baik jika dilatih terus-menerus. 2. Luangkan Waktu 10–15 Menit Sehari Sediakan waktu minimal 10–15 menit setiap hari untuk menulis. Tuliskan apa saja, mulai dari ungkapan hati seorang pendidik hingga catatan pengalaman mengajar. Jika dilakukan secara rutin selama 21 hari, menulis bisa menjadi kebiasaan (habit). 3. Manfaatkan Materi Ajar Guru memiliki banyak bahan untuk ditulis. Materi ajar, referensi buku, atau modul pembelajaran dapat dikembangkan menjadi karya tulis atau bahkan buku. Semakin lama mengampu mata pelajaran tertentu, semakin kaya pula inspirasi yang bisa dituangkan. 4. Bagikan Pengalaman Mengajar Pengalaman mengajar adalah sumber inspirasi yang berharga. Jangan hanya berhenti di ruang guru atau obrolan singkat. Dokumentasikan pengalaman tersebut dalam tulisan agar bisa menjadi referensi bagi guru lain dan bermanfaat dalam jangka panjang. Penutup: Jadilah Guru Literat Dengan menulis secara rutin, keterampilan guru akan semakin terasah. Kebiasaan sederhana menulis 10–15 menit per hari mampu membentuk karakter guru sebagai komunitas literat. Pada akhirnya, peserta didik akan mendapatkan contoh nyata dari gurunya dalam membangun budaya literasi. Ayo mulai sekarang, jadilah guru literat yang tidak hanya membaca, tetapi juga menulis!

Pentingnya Literasi Menulis bagi Guru Read More »

tipe guru berdasarkan 4 kuadran

Tipe-Tipe Guru Berdasarkan 4 Kuadran

Tipe-Tipe Guru Berdasarkan 4 Kuadran: Mana yang Paling Cocok dengan Anda ? Tipe-tipe guru berdasarkan 4 kuadran memetakan gaya mengajar seorang guru yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar. Setiap guru memiliki karakteristik, metode, dan cara berinteraksi dengan siswa yang berbeda. Untuk memahami hal ini, para pakar pendidikan membagi tipe guru ke dalam empat kuadran (4 quadran) berdasarkan kombinasi tingkat perhatian (care) dan tingkat kendali (control). Selanjutnya artikel ini akan membahas secara lengkap tipe-tipe guru berdasarkan 4 kuadran beserta kelebihan dan kekurangannya. 1. Guru Kuadran I: Tinggi Perhatian – Tinggi Kendali Guru pada kuadran ini dikenal tegas sekaligus peduli. Mereka menetapkan aturan yang jelas, namun tetap memperhatikan kebutuhan emosional siswa. Ciri-ciri: Kelebihan: siswa merasa aman, termotivasi, dan terarah.Kekurangan: bisa dianggap terlalu mengatur jika tidak seimbang. 2. Guru Kuadran II: Tinggi Perhatian – Rendah Kendali Guru tipe ini biasanya hangat, ramah, dan dekat dengan siswa, tetapi kurang menekankan pada aturan dan kedisiplinan. Ciri-ciri: Kelebihan: siswa merasa nyaman dan berani berekspresi.Kekurangan: kelas bisa menjadi kurang terkontrol. 3. Guru Kuadran III: Rendah Perhatian – Tinggi Kendali Tipe guru ini dikenal otoriter. Mereka menekankan aturan dan kontrol penuh, namun kurang memperhatikan aspek emosional siswa. Ciri-ciri: Kelebihan: kelas sangat teratur dan tertib.Kekurangan: siswa bisa merasa tertekan atau takut. 4. Guru Kuadran IV: Rendah Perhatian – Rendah Kendali Guru dalam kuadran ini biasanya pasif, baik dalam perhatian maupun kontrol terhadap siswa. Ciri-ciri: Kelebihan: siswa bisa mandiri.Kekurangan: proses belajar tidak terarah dan motivasi siswa rendah. Mana Tipe Guru yang Ideal? Berdasarkan penelitian, tipe guru yang paling ideal adalah kuadran I (tinggi perhatian – tinggi kendali). Guru dengan tipe ini mampu menyeimbangkan disiplin dan kepedulian, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif sekaligus menyenangkan. Baca Juga : Model Pembinaan Guru Kesimpulan Setiap guru memiliki gaya mengajar yang unik. Dengan memahami 4 kuadran tipe guru, pendidik dapat melakukan refleksi diri untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan belajar yang efektif, humanis, dan berorientasi pada perkembangan siswa.

Tipe-Tipe Guru Berdasarkan 4 Kuadran Read More »

sunan maulana malik ibrahim

Sejarah Sunan Gresik : Biografi, Dakwah, dan Keteladanannya

Sunan Gresik merupakan penyebar  agama Islam pertama di Jawa.  Beliau adalah wali pertama dari majelis dakwah yang bernama “Walisongo”. Walisongo artinya waliyullah yang berjumlah sembilan orang sebagai penyebar agama Islam periode awal di tanah Jawa. Riwayat dan Silsilah Sunan Gresik Sunan  Gresik  adalah  putra  dari  Syaikh  Jumadil  Kubro  yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim  berasal  dari Samarkand, Persia (Asia Tengah). Beliau lahir pada tahun 1350 Masehi. Memiliki saudara laki-laki bernama Maulana Ishaq. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) menikah dengan anak Raja Champa bernama Dewi Candrawulan. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra yang bernama Sayyid Ali Rahmatullah yang memiliki panggilan Raden Rahmat, yang pada kemudian hari juga menjadi  anggota  walisongo.  Raden Rahmat memiliki saudara laki-laki yang bernama Sayyid Ali Murtadho (Raden Santri). Adapun  Negeri Champa  saat ini dikenal dengan negara Kamboja. Setelah menetap di Champa selama 13 tahun, Maulana Malik Ibrahim berpamitan kepada  Raja Champa untuk berdakwah  ke pulau Jawa. Beliau memberi ijin berangkat  dengan memberi  perbekalan yang cukup besar mulai dari kapal, sembako dan juga 40 orang pasukan pilihan lengkap dengan persenjataan. Hal tersebut dilakukan karena kekhawatiran raja karena pulau Jawa saat itu berada di bawah kekuasaan Majapahit yang sangat terkenal kebesaran dan ketegasan para rajanya. Baca juga : Sunan Ampel Beliau menginjakkan  kaki di tanah Jawa untuk memulai dakwahnya  pada tahun 1392 masehi. Daerah yang pertama kali dituju adalah Desa Sembalo, Leran, Gresik, Jawa Timur. Sedangkan kondisi masyarakat Gresik pada waktu itu cukup memprihatinkan. Di antara keprihatinan yang ada adalah kemiskinan,  kepercayaan animisme dan dinamisme  yang kuat,  dan Ajaran Hindhu yang mendominasi terutama adanya kasta (kelas dalam masyarakat). Adapun kasta yang ada dalam masyarakat hindhu terdiri dari : Strategi Dakwah Sunan Gresik Sunan Gresik memulai strategi dakwahnya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut : Jabatan Sunan Gresik Karena jasanya terhadap kemajuan dan kemakmuran masyarakat Gresik, maka beliau diberi tanah wilayah  oleh Raja Majapahit (Raja Brawijaya) tepatnya  di Kampung  Gapura,  Gresik.  Bahkan  beliau juga diberikan jabatan sekaligus yaitu sebagai : Beliau berdakwah  di Gresik  selama  40 tahun.  Beliau  pada tahun 1419 masehi dan dimakamkan di pemakaman Gapura Wetan Gresik Jawa Timur. Baca juga : Sunan Giri Nilai Keteladanan Sunan Gresik Keteladanan/nilai positif dari seorang Sunan Gresik : Nama Lain / Julukan Sunan Gresik Sunan Maulana Malik Ibrahim memiliki nama-nama lain atau julukan, yaitu: Jasa besar Sunan Maulana Malik Ibrahim selanjutnya abadi sebagai nama sebuah Perguruan Tinggi Islam Negeri bernama UIN (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim yang berada di Malang. Download Ringkasan

Sejarah Sunan Gresik : Biografi, Dakwah, dan Keteladanannya Read More »

gaya pola asuh orang tua

Gaya Pola Asuh Orang Tua

Gaya Pola asuh orang tua dalam mendidik anak sangatlah beraneka ragam. Hal tersebut disebabkan oleh dua faktor yang mempengaruhi sikap orang tua, yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun  faktor internal adalah model pola asuh orang tua yang didapat dari pola asuh sebelumnya. Dalam hal ini orang tua menerapkan pola asuh berdasarkan yang mereka alami dari para orang tuanya. Dan ini digunakan jika mereka merasa pola asuh yang mereka dapatkan dari orang tua termasuk kategori berhasil. Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, lingkungan fisik, dan lingkungan kerja orang tua. Lingkungan sosial dan fisik tempat orang tua tinggal sangat berpengaruh terhadap pola pengasuhan terhadap anaknya. Sebagai contoh, tempat tinggal orang tua di lingkungan masyarakat yang mayoritas tingkat sopan santunnya rendah, maka akan berpengaruh terhadap sikap anak-anak mereka. Kemudian lingkungan kerja orang tua. Jika orang tua terlalu sibuk bekerja maka otomatis mereka akan cederung menitipkan atau menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang-orang terdekatnya. Termasuk di sini mereka yang bekerja sebagai TKI di luar negeri. Mereka akan menyerahkan tanggung jawab pengasuhan anaknya kepada orang terdekat seperti saudara atau neneknya. Maka pola asuh yang didapat oleh anak akan sesuai dengan orang yang mengasuh anak tersebut. Tipe-Tipe Gaya Pola Asuh Orang Tua Gaya pola asuh orang tua atau pun pengasuh terhadap anak memiliki tipe-tipe seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Psikolog Diana Braumrind (Santrock, 2002), terdapat tiga gaya pola asuh orang tua terhadap anak, yaitu: Authoritarian Parenting (pola asuh otoriter), Authoritative Parenting (pola asuh demokratis), dan Permisif Parenting. Selanjutnya Psikolog Eleanor dan John Martin menambahkan satu jenis lagi yaitu Uninvolved Parenting (pola asuh cuek). Berikut kita bahas beserta akibat yang timbul dari gaya pola asuh orang tua tersebut. 1. Authoritarin Parenting (Pola Asuh Otoriter) Gaya pola asuh orang tua ini menuntut anaknya menjadi patuh dan penurut. Cara yang digunakan orang tua adalah menerapkan disiplin yang keras dan hukuman untuk mengendalikan anak. Orang tua banyak membuat peraturan tanpa menjelaskan ataupun mengajak anak untuk mendiskusikan sanksi yang diberikan. Pola asuh orang tua otoriter ini berakibat anak cenderung suka berbohong untuk menghindari hukuman, tidak bahagia, kurang mandiri, takut bersikap, merasa rendah diri, menunjukkan banyak masalah dalam berperilaku, memiliki nilai akademis yang buruk, rentan terhadap masalah mental, dan cenderung memiliki masalah penggunaan narkoba. 2. Authoritative Parenting (Pola Asuh Demokratis) Gaya pola asuh orang tua ini cenderung menggunakan pendekatan rasional dan demokratis. Orang tua sangat responsif terhadap sikap anaknya. Mereka bersikap akrab dan bahkan bisa menjadi teman bagi anaknya. Orang tua tipe ini mau mendengarkan pendapat anak, membuat peraturan dengan menjelaskan alasan dan kaitannya dengan norma serta nilai yang diterapkan dalam keluarga. Bahkan untuk sanksi pun mereka membuat kesepatan bersama. Orang tua seperti ini sangat memahami informasi perkembangan anak-anaknya. Gaya pola asuh orang tua ini berakibat anak cenderung ramah, bersemangat, ceria, dapat mengendalikan diri, memiliki rasa ingin tahu, kooperatif, tampak bahagia, lebih mandiri, dan mencapai kesuksesan akademik yang tinggi. Selain itu, anak juga biasanya dapat berinteraksi dengan baik, memiliki keterampilan sosial yang bagus, memiliki kesehatan mental yang baik (lebih sedikit mengalami depresi, kecemasan, upaya bunuh diri, mengonsumsi alkohol, maupun penggunaan narkoba), dan tidak menunjukkan kekerasan. 3. Permisive Parenting Gaya pola asuh orang tua permisif dikenal gemar memanjakan dan memiliki sedikit tuntutan atau harapan untuk anak. Orang tua jenis ini lebih responsif pada anak dibandingkan dua pola asuh sebelumnya. Pola asuh ini lebih modern, toleran dan menghindari konfrontasi. Orang tua jenis ini akan sedikit memiliki informasi tentang perkembangan anaknya. Sebab mereka cenderung mentolerir apapun kesalahan atau pun kelalaian anak. Mereka membuatkan aturan untuk anaknya, tetapi mereka juga tidak konsisten. Jika anak melanggar maka tetap dibiarkan. Sehingga anak akan merasa di zona nyaman berbuat apapun sesuka hatinya. Pola asuh orang tua ini akibatnya kerap mencetak pribadi yang tidak mandiri. Mereka cenderung mengalami masalah yang berkaitan dengan kecemasan setiap mengambil keputusan. anak akan menemui kesulitan mengontrol dorongan hati, tidak patuh jika diminta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya sendiri. mereka juga cenderung memiliki kinerja buruk dengan tugas-tugas sekolahnya. 4. Uninvolved Parenting (Pola Asuh Cuek) Gaya pola asuh orang tua ini sama sekali tidak terlibat dengan apa pun yang terkait dengan anak. Orang tua tidak menuntut, tidak responsif, dan minim komunikasi. Meskipun kebutuhan dasar anak terpenuhi, namun umumnya mereka terlepas jauh dari kehidupan anak. Mereka hanya memastikan bahwa anak mendapatkan asupan makan dan minum yang cukup, pulang ke rumah dengan aman, dan hal-hal mendasar lainnya. Sementara hal-hal yang bersifat dukungan emosional mereka nihil. Mereka adalah para orang tua yang akhirnya kurang mendapatkan informasi perkembangan anak-anaknya. Gaya pola asuh orang tua seperti ini, membuat anak cenderung tidak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga mencetak pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah. Orang tua seperti ini baru sadar jika di kemudian hari tiba-tiba muncul masalah yang membebani pikiran mereka. Sebab mereka sebelumnya tidak pernah tahu informasi perkembangan anaknya. Pola asuh orang tua di atas, akan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Sehingga kita dapat menentukan gaya yang tepat untuk digunakan sebagai model pola asuh terhadap anak-anak kita. demikian, semoga bermanfaat.  

Gaya Pola Asuh Orang Tua Read More »