sejarah sunan bonang

Sejarah Sunan Bonang : Biografi, Dakwah, dan Keteladanan

Sunan Bonang mengawali dakwahnya di daerah Kediri. Di awal dakwahnya, beliau menerapkan gaya dakwah yang keras. Sehingga yang terjadi adalah penolakan dan perlawanan dari masyarakat setempat. Akhirnya Sunan Bonang memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Akan tetapi, selama dakwah di Kediri, Sunan Bonang sempat mendirikan masjid pertama kali dengan nama “Masjid Sangkal Daha”.

Selanjutnya atas permintaan Raden Patah, Sunan Bonang mendapatkan tugas sebagai Imam Besar di Kesultanan Demak, sekaligus sebagai Panglima Tertinggi Kesultanan Demak. Peran ini menunjukkan bahwa beliau bukan hanya tokoh spiritual, tetapi juga memiliki kemampuan dalam bidang kepemimpinan dan strategi.

Setelah menunaikan tugas di Kesultanan Demak, Sunan Bonang melanjutkan dakwahnya dengan berkeliling. Daerah yang dituju adalah Desa Bonang, Lasem (Rembang, Jawa tengah). Beliau merubah cara dakwahnya yang pada awalnya keras menjadi dakwah dengan cara-cara yang lembut, dan mudah diterima masyarakat.

Nama “Bonang” yang menjadi Sebutan Beliau, berasal dari nama sebuah desa, yaitu desa Bonang yang terletak di daerah Lasem. Di sini Sunan Bonang juga mendirikan Pesantren yang diberi nama : “Watu Layar”, yang berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak santri berilmu dan berakhlak mulia.

Sunan Bonang berdakwah dengan memadukan unsur kesenian lokal seperti gamelan, tembang Jawa, serta karya sastra. Beliau menciptakan alat musik tradisional yang diberi nama “Bonang”. Kreatifitas dan inovasi inilah yang membuat dakwah Sunan Bonang menjadi lebih mudah dan agama Islam di daerah tersebut berkembang pesat.

Selanjutnya, dakwah Sunan Bonang tidak hanya berhenti di Bonang, Lasem. Namun beliau melanjutkan dakwahnya di daerah lain seperti; Pati, Tuban, Madura, dan Bawean.

Karya dan Keilmuan Sunan Bonang

  1. Gemar membaca dan tekun menulis keilmuan
  2. Seniman yang Kreatif dan inovatif dalam
  3. Toleran dan bijaksana dalam berdakwah
  4. Mengembangkan pendidikan melalui pesantren